Bandar Lampung,MAN 1(Humas). MAN 1 Bandar Lampung yang dalam hal ini diwakili oleh Dra.Hj.Par'aini, Hj.Poppy Novitasari,M.Pd., Hera Suzana,S.Pd., Rizyanti,M.Pd. dan Sisca Novalia,S.Pd. mengikuti kegiatan sosialisasi Perempuan Teladan Optimis dan Produktif (TOP) viralkan perdamaian dalam rangka pencegahan radikalisme dan terorisme di Balai Keratun,Rabu (27/07/2022).

Kegiatan yang dibuka oleh Gubernur Provinsi Lampung, Arinal Junaidi ini dihadiri oleh Forkopinda Provinsi Lampung, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung,Puji Raharjo, Direktur Reskrim Polda Lampung Kombes Pol.Reynold Hutagalung, Kasatwil Densus 88 Wilayah Lampung, Asisten Pemerintahan dan Kesra Qudrotul Ikhwan, Kaban Kebangpol sekaligus Ketua FKPT Lampung,M.Firsada, StafAhli Kementerian Kominfo RI, Devi Rachmati, Akademika Unila, Handi Mulyaningsih, Perwakilan organisasi perempuan, guru MAN 1 Bandar Lampung, mahasiswa dan pelajar.

Dalam sambutannya,Arinal mengharapkan empat hal bagi perempuan yang mengikuti peserta dalam kegiatan ini diharapkan memiliki visi untuk membangun kedamaian dan merawat lingkungan secara kolaborasi dengan semua kalangan.

"Perempuan harus mampu mengembangkan digital skills dan digital ethics agar mampu menebar kebajikan lewat konten-konten yang membangun,"terang Gubernur Arinal.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigadir Jendral Ahmad Nurwakhif mengatakan bahwa persoalan radikalisme harus menjadi perhatian sejak dini karena sejatinya radikalisme adalah pahan yang menuju aksi terorisme Di sinilah pentingnya peran seorang perempuan terutama ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.

"Radikalisme merupakan proses tahapan menuju terorisme yang selalu memanipulasi agama,"tegas Nurwakhid.

Kita harus mewaspadai lima indikator radikalisme. Pertama, mengajarkan ajaran yang anti Pancasila dan proidieologi khilafah transnasional. Kedua mengajarkan paham takfiri yang mengafirkan pihak lain yang berbed paham maupun agama. Ketiga menanamkan sikap anti-pemimpin atau pemerintahan yang sah, dengan sikap membenci dan membangun ketidak percayaan ( distrust )  masyarakat terhadap pemerintahan maupun negara melalui propaganda, fitnah, adu domba,hate speech, dan sebaran hoaks. Keempat, memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungan maupun oerubahan serta intoleransi terhadap perbedaaan maupun keragaman ( pluralitas ). Kelima biasanya memiliki pandangan anti-budaya ataupun anti–kearifan lokal keagamaan.

“Ada tiga strategi yang dilakukan oleh kelompok radikalisme,” ujar dia.

Pertama , mengaburkan , menghilangkan bahkan menyesatkan sejarah bangsa. Kedua  , menghancurkan budaya dan kearifan local bangsa Indonesia. Ketiga , mengadu domba di antara anak bangsa dengan pandanagn intoleransi dan isu SARA.

Dia menyebut proses penanamannya dilakukan secara masif diberbagai sektor kehidupan masyarakat, dibutuhkan banyak perempuan yang berkontribusi dalam aktifitas yang positif agar justru  mereka menjadi agen-agen perubahan sosial bukan menjadi penebar pemikiran radikal.

Kontributor (HrS/Aska69/AS).